Tuesday, December 10, 2019

Larangan Jual Beli Buah-Buahan yang Belum Matang


LARANGAN JUAL BELI BUAH –BUAHAN YANG BELUM  MATANG
Disusun Oleh :
M. Ikmal :                               (3218024)
JURUSAN ILMU HADIS
FAKULTAS USULUDDIN ADAB DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
TAHUN AKADEMIK
2019

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Pada zaman sekarang yang serba canggih ini, Penggunaan teknologi modern (seperti komputer atau telepon genggam) sebagai alat bantu guna memperlancar kegiatan usaha jual beli yang merupakan salah satu strategi pemasaran yang sangat menguntungkan. Di era digital sekarang ini terdapat banyak transi perdagangan melalui dunia maya (online atau via internet), sehingga antara penjual dan pembeli tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.  Dahulu, pada masa belum ditemukannya teknologi internet, apabila seseorang bermaksud membeli suatu barang maka ia akan mendatangi tempat dimana barang itu dijual, pembeli dapat memeriksa secara langsung kondisi barang yang ia inginkan kemudian terjadi tawar menawar antara pembeli dan penjual, apabila tercapai kesepakatan antara penjual dan pembeli barulah terjadi serah terima uang dan barang.
Manusia sebagai makhluk sosial gemar sekali melakukan transaksi jual beli.Bahkan itu adalah hal yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana yang telah diketahui bahwasanya jual beli merupan salah satu perbuatan atau kegiatan yang boleh dan dihalalkan dalam islam. Sebagaimana firman Allh SWT.dalam al-Qur’an surah al-baqarah dalam (al-Qur’an surah al-baqarah ayat 275).
Selain hal itu, jual beli tidak hanya sebatas kata halal akan tetapi ada beberapa kategori yang membuat jual beli menjadi pasid (rusak) bahkan tidak sah, seperti jual beli yang tidak memenuhi syarat  dan rukun, jual beli riba, gharar, dan sebagainya. Akan tetapi pada penelitian ini penulis akan mengakat  permasalahan yang kerap terjadi dikalangan masyarakat, yaitu terkait dengan jual beli buah-buahan yang belum matang, apakah hukumnya boleh, makruh, atau haram?, lalu bagaimana hukum jual beli tersebut menurut perspektif hadis dan pendapata ulama.Nah untuk merefleksi ha tersebut menjadikan penulis bersemngat dalam melakukan analisis terhadap  hukum jual beli buah buahan-buahan yang belum matang, yang akan dipaparkan dibawah ini.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas maka rumusan masalahnya sebaagai berikut:
1.      Apa hadis yang berkaitan dengan larangan jual beli buah-buahan yang belum matang?
2.      Bagaimana kandungan hadis tersebut?
3.      Bagaimana studi kasus yang relevan dengan hadis Jual beli buah-buahan yang belum matang?
4.      Bagaimana proses pentakhrijan hadis itu?.
C.    Tujuan Penelitian
Adapu tujuan makalah ini dibuat adalah
1.      Untuk mengetahui hadis  larangan jual beli buah-buahan yang belum matang
2.      Untuk memahami isi kandungan hadi jual beli buah-buahan yang belum matang
3.      Untuk mendeskripsikan kasus yang sesuai dengan hadis tersebut.
4.      Untuk mengetahui proses pentakhjian hadis tersebut.




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Hadis Larangan jual beli buah-buahan yang belum matang
Jual beli beli merupakan  suatu tradisi kebiasan yang dilakukan oleh manusia  sebagai   makhluk social. (soerjono soekanto,2014; 5). Tentu tidak terlepas dari yang namanya tsansaksi jual beli, Pada prinsipnya hukum muamalah adalah boleh[1] kecuali ada dalil yang mengharamkannya.Tentu hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa dalam transaksi yang dilakukan sedikit banyak terdapat kekeliruan atau sesuatu yang tidak sesuai dengan syaratdan ketentuan kaedah jual beli.Terlebih dalam jual beli buah-buahan yang belum matang, dimana ada didalamnya terdapat larang yang tegas dijelaskan oleh Nabi SAW. Adapun hadis-hadis yang terkait dengan jual beli ini adalah sebagai berikut:
1.      Larangan jual beli buah buahan yang belum masak


حدثنا  أبو النضْر حدثنا زُهَيْرٌ  حدثنا أبو الزبير عن جابر  قال : نَهَى – أو نهانا – رسول الله صلى الله عليه وسلم عَنْ بَيْعِ الثَّمَرَةِ حَتَّى تَطِيْبَ
Artinya: “Bahwa Rasulullah SAW. melarang kami menjual buah-buahan sebelum masak.
a.       Mufradad
Melarang         : نَهَى
Jual beli           : بَيْعِ
Baik                 : تَطِيْبَ
b.      Qawa’id
Dalam hadis ini ada beberapa qa’idah nahwu yang sederhana dapat penulis paparkan yaitu terkait dengan lafadz حَتَّى تَطِيْبَ. Lafadz ini tersusun dari kalimat huruf (harfu nasbin),  kalimat fi’il beserta fail yang mustatir.

2.      Larangan menjual buah buahan yang belum nyata baiknya

 حدثنا عبد الله بن يوسف أخبرنا مالك عن نافع عَنْ عَبْدِ اللّهِ بْنِ عُمَرَ آَنَّ رَسُوْلَ اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ الثَّماَرِ حَتَّى يَبْدُ وَصَلاَ حُهَا نَهَى الْبَائِعَ وَالْمُبْتَاعَ
Artinya: Nabi SAW melarang  kita menjual buah-buahan yang belum jelas baiknya. Larangan tersebut berlaku pada penjual dan pembeli
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال رسول الله  صلى الله عليه وسلم لا تبايعوا الثمار حتى يبدو صلاحها.
Artinya: Janganlah kalian berjual beli buah-buahan yang belum jelas baiknya
a.       Mufradad
Bagus/baik      : صَلاَ حُ
Penjual                        : الْبَائِعَ
Pembeli           : الْمُبْتَاعَ
b.      Qawaid
Contoh qawaid sederhananya pada lafadz آَنَّ رَسُوْلَ اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ نَهَى, disini terdapat anna yang menasabkan isim dan merafa’kan khabar.Dalam hal ini khabarnya berupa jumlah fi’liyah.

3.      Hadis tentang tolak ukur matangnya buah-buahan.

حدثني أبو ألطاهر و أخبرنا إبن وهب أخبرني مالك عن حُمَيْد الطويل عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَاللّهِ صَلَّى اللّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعٍ الثَّمَرة  حَتَّى تُزْهِيَ :قِاَ لَوا  وَمَاتُزْهِي؟ قَالَ حَتَّى يحْمَرّ, قال إذا منع الله الثمرة فبم تستحل مال أخيك؟
Artinya: Nabi SAW melarang jual beli buah-buahan hingga tampak merah; para shahabat bertanya tentang artiتُزْهِي, Nabi menjawab : Berwarna merah, Nabi bersabda pula apabila Allah menimpakan bencana atas buah itu, maka dengan apa engkau menghalalkan harta saudara engkau?.
a.       Mufradad
Melarang/mencegah    : منع
Menghalalkan              : تستحل
b.      Qawa’id
contoh Qawa’id dalam hadis ini penulis mengambil  lafadz فبم تستحل مال أخيك. Dimana lafadz ini terdapat jumlah fi’liyah (terdiri dari fiil dan fa’il serta maf’ul bihnya) disamping itu juga ada tarkib idhafiyah.

B.     Isi kandungan hadis
Jual beli buah-buahan yang belum matang, sebenarnya ada kaitannya dengan jual beli ijon yaitu pengambilan hadis yang sama, akan tetapi ada sedikit perbedaan dalam perakteknya. dalam masalah ini ulama berbeda pendapat, ada yag beranggapan jual beli buah-buahan yang belum matang hukumnya adalah bathal secara muthlaq, kemudian ada pula yang yang mengatakan boleh jika disyaratkan harus dipetik, maka hal ini tidak mengapa, akan tetapi jika tidak disyaratkan demikian maka tetap bathal.[2]Berikut penjelasannya.
 Berdasarkan hadis yang penulis paparkan diatas bahwa jelas nabi melarang hal tersebut dan ulama juga sepakat jual beli buah-buahan ini  dilarang oleh syari’at, hukumnya haram, karena jual belinya fasid (rusak), dengan konsekwensinya adalah uang yang diterima penjual adalah uang yang  haram dan barang yang diterima pembeli barang yang tidak halal (dia mendapatkan keuntungan dari itu). Bahkan ada yang mengatakan bathil secara muthlaq oleh Ibnu Abi Laili dan al-Tsaury.[3]
Ulama tidak serta merta dalam menetapkan sebuah hukum. Dalam hal ini tentu ada yang mendasari terjadinya hukum tersebut (illat). Adapun yang mendasari hukum jual beli buah-buahan yang belum matang adalah karena besar terjadinya gharar (penipuan, atau tindakan yang bertujuan untuk merugikan orang lain). Gharar adalah sesuatu yang tidak diketahui bahaya dikemudian hari, dari barang yang tidak diketahui hakikatnya.[4]Artinya bisa untung besar dan bisa rugi besar, yang mana dalam hadis ini objeknya adalah sipenjual dan pembeli.
Sedangkan pendapat imam syafi’I , imam Ahmad bin Hanbal dan jumhur ulama dan riwayat imam malik mengatakan hukum jual beli buah-buahan yang belum matang adalah bathil dengan catatan apa bila tidak di potong seketika, akan tetapi jika dipotong seketika itu maka dihukumi tidak bathil. artinya larangan ini tidak menjaddi muthlaq, dikecualikan dalam hal ini ijma’ ulam’ (bisyarthi al-qath’i  fil hal)  dipotong seketika itu atau di sabit (jazztan-jaztan) atau di petik(laqthah-laqthah).[5]artinya dipanen pada waktu belum matang dengan syarat langsung dipetik atau diambil sekaligus tanpa menunda-nunda.
C.    Studi kasus
Terkait dengan tema makalah ini, sangat banyak fenomena-fenomena yang terjadi dikalangan kita dimana masyarakat yang aktif dalam melakukan transaksi jual beli, baik untuk kebutuhan pribadi, keluarga, dan lain sebagainya. Terlepas dari itu salah satu problem bagaimana hukum jual beli bibit pohon yang ada buahnya, seperti bibit pohon mangga, pohon durian, pohon sawo dan lain-lain. Yang menjadi daya tariknya adalah pohon tersebut sudah berbuah (mentah). Nah bagaimana hukum jual beli ini, jika direlevansikan dengan hadis diatas?. menurut penulis pada dasarnya hukum jual beli adalah mubah, akan tetapi melihat kasus ini, yang perlu digarisbawahi adalah apakah sipembeli membeli buahnya, atau pohonnya, atau buah beserta pohonnya. Artinya tergantung maqashidnya (tujuan),  jika pembeli membeli pohon dan buahnya dengan tidak bermaksud tidak berharap untuk memanfaatkan buahnya. Akan tetapi jika membeli  buahnya maka syarat yang harus dipenuhi adalah harus dipetik atau dipisahkan dari pohonnya.

D.    Takhrij
Berdasarkan analisis yang penulis lakukan dalam menelusuri hadis-hadis terkait jual beli buah-buahan yang belum matang  melalui kitab miftah kunus al-sunah,  dan beberapa aplikasi, seperti maktabah syamilah dan  jami’ kutub al-tis’ah , al-mausu’atul hadis, maka hasilnya adalah berikut ini:

1.      Hadis pertama, dalam pentkhrijan hadis ini penulis menggunakan aplikasi  jami’ kutub al-tis’ah, dengan kata kunci عَنْ بَيْعِ الثَّمَرَةِ حَتَّى تَطِيْبَ, maka hadis ini ditemui dalam kitab Musnad Ahmad bin Hanbal; Musnad Jabir bin Abdullah Ra, juz 22 halaman352, 357. Nomor hadis 14.466,14.350.
2.      Hadis kedua, Matan hadis ini diriwayatkan oleh jamaah ahli hadis  (akhrajahu al-Jama’ah), maksdnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Bukhari, Imam Muslim, Abu Daud, al-Turmudzi, al-Nasa’I dan Ibnu Majjah.pada hadis kedua ini penulis melakukan pentakhrijan dengan kata kunci نهى عن بيع الثمر, maka ditemukanlah sebagai berikut:
a.       shahih Bukhari : kitab al-Buyu’, bab bay’i al-tsimar qabla an yaabduwa shalahuha , nomor hadis 2.194, 2.183, 2.198, 2.247, 2.249.
b.      shahih muslim :kitab al-Buyu’, bab al-Nahyu ‘an bay’I al-tsimar qabla buduwwi al-shalahiha, nomor hadis 1.534, 1.535, 1.538.
c.       Sunan Abu Daud :kitab al-Buyu’ wa al-Ijarat, bab fii bay’’I al-tsimari qabla an yabdua shalahuha, nomor hadis 3.367, 3.368.
d.      Sunan al-Turmudzi (juz 2 halaman 510) :abwabu al-buyu’ an Rasulillah SAW, bab karahatu bay’I al-tsamrati hatta yabdu shalahuha. Nomor hadis1.226, 1.227.
e.       Sunan al-Nasa’I (juz 7 halaman48) : kitab Muzara’ah,bab dzikru al-ahadis al-mukhtalifati fii l-nahyi an kira’I al-ardhi bi al-tsulutsi, wa al-rub’I wa ikhtilafu alfadzi al-naqiliina lilkhabar. Nomor hadis 3.921, 4.519, 4.520, 4.521, 4.522, 4.551.
f.       Sunan Ibnu Majjah (juz 3 halaman 558), kitab al-Tijarah; bab al-Nahyu ‘an bay’I al-tsimar qablaan yaabduwa shalahuha. nomor hadis 2.214, 2.284.
3.      Hadis ketiga ini metode yang penuمis gunakan dalam melacak hadis ini yaitu metode berlandaskan pada kata-kata yang terdapat dalam matan hadis, baik berupa kata benda maupun kata kerja.[6] dengan kata kunci وما تزهي, maka hadis tersebut ditemukan dalam Shahih Muslim (juz 5 halaman 29);, kitab al- musaqah bab wadh’u jawa’ih, nomor hadis 1.555. selain itu juga terdapat hadis-hadis yang terkait dengan pembahasan ini adalah sebagai berikut:
a.       Shahih Bukhari (juz 2 halaman 127); kitab al-zakat, bab man ba’a tsimarah wa qad wajaba fiihi al-‘usyl, nomor hadis 1.488, 2.195, 2.197, 2.198, 2.207, 2.208.
b.      Sunan Abu daud (juz 3 halaman 432); kitab al-buyu’wa al-ijarat bab fii baiy’I al-tsimar qabla an yabduwa shalahuha, nomor hadis 3.371
c.       Sunan al-Tirmidzi (juz 2 halaman 551); abwab al-buyu’ an Rasulilillah SAW, bab karaahiyatu baiy’I al-tsamrati hatta yabdu shalahuha, nomor hadis 1.228.

















BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
Berdasarakan materi yang penulis paparkan diatas, maka dapat diambil benang merahnya, bahwa jual beli  buah-buahan yang belum matang dalam hadis ini jelas nabi melarangnya, dikarenakan didalamnya terdapat unsur gharar yang besar. Akan tetapi ulama berbeda pendapat dalam hal ini, ada yang mengharamkan secara muthlaq oleh Ibnu Abi Laili dan al-Tsaury dan adapula yang tidak mengharamkannya dengan syarat dipetik seketika itu, sebagaimana pendapat syafi’I , imam Ahmad bin Hanbal dan jumhur ulama dan riwayat imam malik.
Dalam pentakhrijjan hadis ini penulis lakukan melalui beberapa media, yaitu aplikasi jami’ kutub al-tis’ah, maktabah syamilah, dan kitab miftah kunus al-sunah, dan lain lain.



DAFTAR PUSTAKA

A. Qadir, Hamidy, Hassan Mu’ammal dkk. 2001. Terjemah Nailu al-Authar.Surabaya: Pt Binomo Ilm.
Abi al-Naja Musa bin Ahmad al-Hajjawy al-Shalihy.   Zadul Mustaqni’  fi I Khtishar al-Miqni’. Saudi:  daru ibn Jauzy.
al-Asqalaniy,  Ibn Hajar. 2012. Ibanatul Ahkam Syarah Bulughul Maram. Darul Fikri : bayrut Lebanon.
Hakim, Abdul Hamud. Munbadi Awaliyah. Jakarta: Sa’adah Putra.
Khairi, Miftahul. 2017. Ensiklopedia Fiqih Muamalah Dalam Pandangan Empat Madzhab. Yogyakarta: Maktabah al-Hanif.
Soekanto, Soerjono. 2014.  Sosiologi Ilmu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.
Solahudin, Agus dan Suyadi, Agus.2008.  Ulumul Hadis. Bandung: Pustaka Setia.



[1]الأصل في الأشياء الإباحة (hukum ashal (pada dasarnya) segala sesuatu itu diperbolehkan), buka mubadi awwaliyyah, hlm. 47
[2]A. Qadir Hassan, Mu’ammal Hamidy dkk,TerjemahNailu al-Authar,(Surabaya: Pt Binomo Ilm),hlm. 1.698.jilid 4.
[3] Ibn Hajar al-Asqalaniy,  Ibanatul Ahkam Syarah Bulughul Maram, ( Darul Fikri : bayrut Lebanon , 2012), hlm. 96.
[4]Miftahul Khairi, Ensiklopedia Fiqih Muamalah Dalam Pandangan Empat Madzhab, (Yogyakarta: Maktabah al-Hanif, 2017), Hlm.37.
[5] Abi al-Naja Musa bin Ahmad al-Hajjawy al-Shalihy,  Zadul Mustaqni’  fi I Khtishar al-Miqni’, (Saudi: daru ibn Jauzy ), Hlm.110.
[6] Agus Solahudin dan Agus Suyadi, Ulumul Hadis, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hlm. 198.


No comments:

TERIAKAN MAUT FANATISME

TERIAKAN MAUT FANATISME KEBENARAN M. ikmal Mahasiswa    Jurusan Ilmu Hadis IAIN Pekalongan dan Infokom Himpunan Mahasiswa Sumatra (Hi...